Oleh : Ustad Cahyadi Takariawan
Apakah yang terjadi pada seorang Ka’ab bin
Malik ? Ya, ia tidak berangkat ke Tabuk. Masyaallah, harusnya ia berangkat.
Sebagaimana perang-perang sebelumnya, bukankah ia tidak pernah absen ? Mengapa
ia tidak berangkat menuju Tabuk, padahal Nabi dan para sahabat telah berangkat
?
Pasti ia punya kondisi dan situasi yang
membuatnya tidak berangkat. Ada sesuatu di balik ketidakberangkatannya.
Fasilitas Itu….
“Aku sama sekali tidak pernah absen mengikuti
semua peperangan bersama Rasululah saw, kecuali dalam perang Tabuk.
Ketidakikutsertaanku dalam perang Tabuk itu karena diriku dilalaikan oleh
perhiasan dunia. Ketika itu keadaan ekonomiku jauh lebih baik daripada
hari-hari sebelumnya. Demi Allah, aku tidak pernah memiliki barang dagangan
lebih dari dua muatan onta, akan tetapi pada waktu peperangan itu aku
memilikinya”.
Masyaallah. Demikian lugas pengakuan Ka’ab,
“Ketidakikutsertaanku dalam perang Tabuk itu karena diriku dilalaikan oleh
perhiasan dunia”.
Ternyata bukan hanya “orang awam” yang bisa
dilalaikan oleh perhiasan dunia. Seorang mujahid, sahabat Nabi, terlahir
menjadi generasi terbaik sepanjang sejarah kemanusiaan, tetap bisa terlalaikan
oleh perhiasan dunia. Kurang apa Ka’ab. Tidak pernah absen dalam seluruh
peperangan, benar-benar mujahid setia.
“Demi Allah, aku tidak pernah memiliki barang
dagangan lebih dari dua muatan onta, akan tetapi pada waktu peperangan itu, aku
memilikinya”.
Artinya, bukan soal fasilitas yang menyebabkan
Ka’ab tidak berangkat ke Tabuk.
Di zaman kita sekarang, Tabuk itu tidaklah
jauh. Sesungguhnya Tabuk kita lebih simpel dibandingkan di zaman Ka’ab. Namun
“ketidakberangkatan” tetap saja terjadi. Coba ukur, seberapa jauh Tabukmu ?
Ada yang merasakan kesulitan ekonomi, yang
menyebabkannya memiliki banyak keterbatasan dalam mengikuti kegiatan dakwah. Ia
mengatakan, “Andai aku punya motor, tentu akan lebih banyak kegiatan dakwah
yang bisa aku lakukan”. Ketika punya motor ternyata ia masih merasa banyak
keterbatasan. “Andai aku punya mobil, tentu aktivitasku menjadi lebih leluasa”.
Saat memiliki mobil, tetap saja banyak alasan. “Andai mobilku bagus, pasti
tidak ada lagi kendala berkegiatan”.
Saat mobilnya sudah bagus, ternyata tetap saja
ia tidak tergerak untuk aktif berdakwah. Apa yang terjadi padanya ? Padahal
sekian banyak mujahid dakwah berjalan kaki melakukan kegiatan, dan
berlelah-lelah di tengah keterbatasan sarana serta fasilitas. Dakwah tetap
berjalan tanpa tergantung kepada ketersediaan dan kelengkapan fasilitas.
Mengapa ada yang tetap tidak berangkat ?
Panas, Jauh, Lelah….
“Peperangan ini Rasulullah saw lakukan dalam
kondisi panas terik matahari gurun yang sangat menyengat, menempuh perjalanan
nan teramat jauh, serta menghadapi lawan yang benar-benar besar dan tangguh…
Rasulullah saw mempersiapkan pasukan yang akan berangkat. Aku pun mempersiapkan
diri untuk ikut serta, tiba-tiba timbul pikiran ingin membatalkannya, lalu aku
berkata dalam hati : Aku bisa melakukannya kalau aku mau!”
Bukan panas musim kemarau seperti yang sering
kita alami di Indonesia, namun panas terik matahari gurun yang sangat
menyengat. Sangat panas, harus menempuh perjalanan yang jauh, dan “hanya” untuk
berperang. Bukan untuk rekreasi, bukan untuk wisata kuliner, bukan untuk
menginap di hotel berbintang, bukan untuk tamasya dengan keluarga. Sangat
panas, sangat jauh, naik kuda atau unta, tentu akan sangat lelah, dan di sana
telah menunggu musuh yang sangat tangguh.
Tabuk di zaman Ka’ab sungguh jauh. Tidak ada
pesawat terbang, tidak ada mobil ber-AC, tidak ada sarana yang memadai untuk
menempuh jarak yang sedemikian panjang dan cuaca yang sangat panas terik.
Di zaman kita sekarang, Tabuk itu tidaklah
jauh, tidak panas terik. Ada pesawat terbang, ada kereta api eksekutif, ada bus
eksekutif, ada taksi, ada travel, ada mobil ber-AC, ada motor, ada sepeda.
Tabuk kita bahkan tidak panas, namun “ketidakberangkatan” tetap saja terjadi.
Sebenarnya, seberapa jauhkah Tabukmu ?
Awalnya kita merasa “Aku bisa melakukannya
kalau aku mau !” Ah, tapi apa yang aku dapat kalau berangkat ?
Mengaji, di tempat para murabbi bahkan kita
disuguhi. Rapat, di tempat pertemuan tersedia banyak jajanan. Berbagai agenda
dakwah, seperti tatsqif, mabit, daurah, bahkan mukhayam, semua full fasilitas.
Apa yang menghalangi untuk datang ke berbagai agenda dakwah tersebut ? Apa yang
menjadi alasan ketidakberangkatan ?
Apa sebenarnya perang kita ? Apa yang ada di
Tabuk kita ?
Dikuasai Kemalasan
“Akhirnya aku terbawa oleh pikiranku yang
ragu-ragu, hingga para pasukan kaum muslimin mulai bergerak meninggalkan Madinah.
Saat aku lihat pasukan kaum muslimin mulai meninggalkan Madinah, timbul
pikiranku untuk mengejar mereka, toh mereka belum jauh. Namun, aku tidak
melakukannya, kemalasan menghampiri dan bahkan menguasai diriku…”
Di zaman kita, ada yang melihat orang lain
yang sangat aktif dan dinamis dengan berbagai agenda dakwah, sempat terpikir
“Aku masih bisa mengejar mereka”. Ya, aku akan menyusul mereka. Tapi mengapa
tidak engkau lakukan ? Mengapa tidak engkau susul mereka ? Mengapa engkau tetap
tidak berangkat ? Apa alasan ketidakberangkatanmu ?
“Kemalasan menghampiri dan bahkan menguasai
diriku……”
Padahal kita tidak bertemu panas terik gurun
pasir. Kita tidak bertemu jarak yang demikian jauh untuk ditempuh dengan kaki.
Yang kita temui adalah sarana dan fasilitas yang lengkap. Acara dari hotel ke
hotel. Kegiatan dari rumah ke rumah. Rapat dari ruang ke ruang. Koordinasi dari
gedung ke gedung. Semua nyaman, semua menyenangkan, semua sejuk, semua penuh
dengan suguhan.
Mengapa tetap terjadi ketidakberangkatan ? Apa
alasan kita ?
"ingatkan jika saya khilaf"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar