Jumat, 28 Februari 2014

Biarlah Menjadi Perahu Kertas

Semuanya tak semudah membalikkan telapak tangan. Sesuatu yang telah kamu cita-citakan belum tentu dapat tercapai secara pasti. Sesuatu yang kamu rencanakan, belum tentu berjalan dengan baik. Terkadang, kita juga harus menelan pil pahit. Cita-cita itu bagaikan bintang di langit. Sangat indah dilihat, namun susah dan bahkan mustahil untuk digapai. Atau seperti perahu kertas yang mengalir dan terus mengalir di sungai. Entah akan berhenti dimana, entah akan sampai dimana. Namun suatu saat, perahu kertas itu akan berhenti juga. Bisa jadi sampai kemuara sungai, atau pun tenggelam tertabrak sampah. Mimpi, Mimpi, Mimpi…..

Biarlah menjadi perahu kertas, dan mengalir bersama air








Terhitung 3 Hari ,.

Aku kira biasa ,
Aku kira bisa ,,. .
Dan ku pastikan menjadi terlupakan … ,

    Satu komponen komplit, dan begitulah cara ku menghibur diri, menguatkan dari bilik ketangguhan yang nyaris aku kehilangan kendali dari hati yang sedemikian ku jaga, erat , melantunkan batas – batas dan komitmen . Hitungan 3 hari saja, saat tapak tapak mu mulai ku perhitungkan ,  aku berbuat bukan lagi aku saja yang ingin ., walau itu hanya hitam putih warna mu, dan nyaris, aku selalu tahu . Miris, terhitung tiga hari ,..
    Awal hadirnya, aku benci . Membuat ku harus menatap terheran, terpaku sejenak . Ku tepis langsung saja, tapi rasa memuji seketika ..
   Pena ku bermain di penghujung, sungguh, ini sangat menyita . focus ku, kendali ku .  semua teruji ,. Kau ! terhitung tiga hari, lalu melayang menembus sesuatu yang tak bisa aku pula ikut menembus nya .  Ada dimana, ku panggil lengking sekali logika ku dan A-yolah .,
    Ahh .., Ia hanya selambaian angin yang harus ku lalui, tak cukup adil bila ku jadikan satu yang tersesali .. Saat mata beradu, secepat kedip harus ku menunduk .., Mungkin , selambaian ini cukup indah untuk aku kagumi penciptanya ,. Oh terhitung tiga hari,. Semua sudah berawal dan berakhir disini ..,

                                                                                                                             25 Februari 2014

                                                                                                                               Di sudut Mushalla

Kamis, 27 Februari 2014

Sepotong yang Lalu ..,

Ada apa dengan merah jambu ???
Ia hadir , yang biasanya perlahan , ku sukai .. namun yang ini ..,
Ahhhh  …

Ada apa dengan hati ku ??
Debar ini, begitu ku benci ..
Ini sangat  Instan, tak ku suka . aku benci ..
         
           Aku kehilangan kata kata untuk menulis yang ku suka ,
          Aku benci, apa yang ku gores
          Tariannya jelek dan aku benci !!!

Tapi aku terus mencari ,,
Mencari sesuatu yang ku benci ,
Yang jalannya menunduk ketika aku terkejut
Yang ia tersenyum ketika aku baru saja menunduk

Ingin aku anggap ia seperti angin
Ngiang ngiang lalu , dan selalu berlalu
          
               Tapi ,,,
    
  Ia memang angin , dan segera berlalu
Berlalu pergi sampai waktu tidak kan menjawab
 Seberapa lama atau mungkin memang takan kembali ..

Ia benar, hanya bagian yang lalu
Yang selalu menjadi berlalu dalam laluan ku

Hah … itu saja ,.

Rabu, 19 Februari 2014

Bukan Kalimat Perpisahan ,., untuk Ukhty Desi Almonika

                              Presented by Al-Ihsan
Rasanya, sebentar sekali kau disini , ukhty ..,
Atau aku , yang baru sebentar mengenal mu ?
    Oh entahlah ..
Ku lihat bias wajah mu, disana ada bangga ,
Syukur , dan tak terdefinisikan ..
    Kau selalu hadir dalam lingkar senyum , tapi lara perpisahan,
Semua pun tahu.. ini berat rasanya ,
Tergores dalam sekali jejak mu disini ..,
Tak ada yang ingin menghapusnya ,.
           Bahkan jarak ,
    Tak kita lihat seperti hambatan ..
Justru ku lihat, ini lah ladang dakwah mu ,,
Yang coba Tuhan perkenalkan ia,
Pada tempat yang baru ..
       Kita ini bak pelangi , maka engkau harus tetap didalam jejerannya ..
Dakwah ini adalah Matahari, tak peduli dimana pun, jangan biarkan dirimu redup ,.
Ini bukan kata perpisahan, hanya saja coba ingin ku jinakkan cara kita,
Kan berbagi nanti J









Kamis, 13 Februari 2014

Menjauh dari Sanjungan

Suatu hari saat berkumpul bersama para sahabat, Rasulullah saw bersabda,“Sesungguhnya di antara pepohonan, ada satu pohon yang tidak gugur daunnya. Pohon ini seperti seorang Muslim, sebutkanlah kepadaku pohon apakah itu?” Para sahabat menerka dengan menyebut pohon-pohon di sekitar lembah, tapi tak satu pun jawaban yang benar. Rasulullah berkata, “Ia adalah pohon kurma.”
Di tengah kumpulan para sahabat kibar (tokoh sahabat) itu, ada seorang anak kecil. Ia ingin ikut menjawab, namun karena hormat kepada Abu Bakar, Umar, Utsman, dan sahabat senior lainnya, ia mengurungkan niatnya. Dalam lanjutan hadits ini, Abdullah bin Umar—si anak kecil cerdas—bertutur, “Saat itu terbesit dalam diriku bahwa pohon itu pohon kurma, namun aku malu mengungkapkannya.”
Sahabat, bergaul dengan banyak orang memberikan peluang kepada kita untuk banyak mengambil hikmah dan pelajaran. Dari pergaulan, kita mengenal secara nyata mana sikap baik dan buruk, mana yang menyenangkan dan meresahkan, mana yang membuat orang lain nyaman dan tidak, dan sebagainya.
Beragam kondisi dan sikap orang lain yang kita temui tak seharusnya membuat kita merasa terbaik, merasa paling tahu, atau merasa lebih dari orang lain. Pergaulan itu sesungguhnya mendatangkan sikap sadar diri bahwa kita perlu banyak belajar. Itulah sebabnya Allah swt mengingatkan di surat An-Najm ayat 32, “(Yaitu) mereka yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji, kecuali kesalahan-kesalahan kecil. Sungguh, Tuhanmu Maha luas ampunan-Nya. Dia mengetahui tentang kamu, sejak Dia menjadikan kamu dari tanah lalu ketika kamu masih janin dalam perut ibumu. Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia mengetahui tentang orang yang bertakwa.”
Sahabat, dalam konteks pergaulan kita dengan orang yang usianya lebih tua, Ibnu Umar mencontohkan bagaimana kita harus selalu sadar diri. Malu Ibnu Umar dalam majelis itu bukan karena ia pemalu, tapi karena rasa hormat terhadap para tokoh sahabat.
Ia menahan diri untuk memperlihatkan kecerdasannya karena khawatir mendapat sanjungan yang membuatnya tinggi hati. Ia lebih suka berhati-hati terhadap segala kemungkinan hinggapnya “rasa” yang akan menodai hatinya. Ibnu Umar memilih untuk tidak populer di forum itu demi keselamatan hatinya. Demikianlah Ibnu Umar, ia dikenal sebagai sahabat yang tak ingin terlihat menonjol di antara tokoh sahabat lainnya.
Di tengah hiruk-pikuk kemajuan ilmu pengetahuan dan informasi ini, mampukah kita menjadi sosok seperti Ibnu Umar, yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa, namun selalu menjaga kebersihan hati untuk tidak haus pujian?

Selasa, 11 Februari 2014

" YOU "

Cahanya lain , jika ku temukan ,,
Satu titik sedang ada disana .. ,
Dan titik itu adalah kamu ,

Seindah benda bulat yang menggelantung
Saat senja mulai mengu-sik
Dan benda itu ku namai mentari ..

Dan kau sama seperti mentari itu ,,
Memberi warna lain , saat .,
Ada rasa lain yang mengusik

Maukah kau membuat ,,
Yang berjarak menjadi dekat ?
Yang tersirat menjadi sangat jelas ??

Dalam diam coba ku hantar ,,
Ku hantar pada – Nya ..,
Dan ku titip pula kau pada – Nya ..,

Jalan ini begitu berliku ,,
Dan cahaya mu, rupanya ada ..
Dalam satu likuan itu ,,

Dan kau percaya ?
Kan ku lewati liku itu,
Ku harap kau mau bersama

Melewati, jika ternyata kita berjumpa :)

The Way

         Oh , aku selalu suka pada angin ..
Angin sore menuju malam ,..
Angin malam menuju pagi .. .
Aku suka, suka sekali ..,
           Bergegaslah, wahai aku yang kerap mencari –mencari ..
          Apalagi yang kau fikirkan ? Terlalu sering,
         Dan ku rasa cukup kau begini ..
Kau paham hakikat  engkau !  Tapi paham saja tak cukup !!
Lakukan apa yang dirimu ingin lakukan ,. Bergerak !
                 Ayunkan langkah kaki mu, kenakan sesuatu ..
                Seperti yang pernah kau katakan,
“Berjalan lah  terus saja, meskipun kau bingung hendak kemana . Biarkan Tuhan
Yang menuntun mu kepada sesuatu”
      Sepoi angin kala ini, begitu lain …
Tenyata , bukan lah angin nya yang begitu lain ,sayang ..
Tapi cara mu merasakan sepou itu .
Cara mu , Ya, cara mu ..
Disuatu Senja ,…
Rahmi Djauhari
24 Januari 2014

16 : 05

Selasa, 04 Februari 2014

#10 Mitos Tentang Introvert


Dari tulisan Carl King yang di copy-paste, copy-paste, copy-paste, dan akhirnya saya terjemahkan dengan sedikit penambahan. Tulisan ini saya rasakan, dan saya percaya beberapa. :)

Mitos #1 – Introvert tidak suka bicara.

Ini tidak benar. Introvert tidak bicara sampai mereka mempunyai sesuatu untuk dibicarakan. Mereka tidak menyukai pembicaraan kecil. Coba lah berbicara pada introvert tentang hal-hal yang mereka tertarik di dalamnya, dan mereka tidak akan berhenti berbicara sampai beberapa hari. ^_^

Mitos #2 – Introvert itu pemalu.
Rasa malu tidak ada hubungannya dengan sifat Introvert. Introvert tidak terlalu takut pada orang-orang. Apa yang mereka butuhkan adalah alasan untuk berinteraksi. Mereka tidak berinteraksi karena ingin berinteraksi. Jika kamu ingin berbicara pada seorang Introvert, mulai saja berbicara. Tidak perlu takut untuk berusaha sopan. Kadang-kadang seorang introvert juga mencari kesempatan untuk berbicara.

Mitos #3 – Introvert itu kasar. 
Introvert tidak melihat alasan untuk berbicara dengan basa-basi. Mereka ingin setiap orang berbicara terus terang dan jujur. Sayangnya, hal ini tidak diterima di kebanyakan situasi, jadi Introvert dapat merasa banyak tekanan untuk masuk di situasi-situasi tersebut, yang mereka temukan membuat mereka lelah.

Mitos #4 – Introvert tidak suka orang-orang.
Sebaliknya, Introvert justru menghargai sedikit teman yang mereka punya. Mereka dapat menghitung teman dekat hanya dengan satu tangan. Jika kamu cukup beruntung mendapatkan seorang Introvert yang menganggap kamu seorang teman, barangkali kamu menemukan teman sejati untuk seumur hidup. Sekali saja kamu mendapatkan rasa hormat mereka sebagai substansi seorang teman, maka kamu sudah terhitung.

Mitos #5 – Introvert tidak suka pergi di keramaian.
Tidak mungkin. Introverts hanya tidak suka berada di keramaian UNTUK WAKTU YANG LAMA. Mereka cenderung menjauhi komplikasi yang terjadi di aktifitas publik. Mereka mengumpulkan kesan dan pengalaman dengan sangat cepat, dan sebagai hasil, tidak merasa butuh disana untuk "mendapatkannya". Mereka selalu siap untuk pulang kerumah, mengingat ulang, dan memprosesnya semua. Faktanya, mengingat ulang adalah hal yang paling penting untuk Introvert.  

Mitos #6 – Introvert selalu ingin sendiri.
Introvert merasa nyaman dengan rasa pikirnya sendiri. Mereka banyak berpikir. Tukang melamun. Mereka suka memiliki masalah untuk dikerjakan, atau teka-teki untuk dikerjakan. Tetapi mereka juga dapat merasa luar biasa kesepian jika mereka tidak mempunyai seorang pun untuk membagi hal-hal yang mereka temukan.  Mereka mendambakan hubungan yang asli dan tulus dengan SATU ORANG pada satu waktu.

Mitos #7 – Introvert itu aneh.
Introvert seringnya seorang individualis. Mereka tidak mengikuti hal-hal umum. Mereka memilih menghargai cara mereka hidup. Mereka berpikir untuk diri sendiri dan karena hal itu, mereka sering menantang hal-hal umum. Mereka tidak membuat banyak keputusan berdasarkan apa yang sedang populer atau sedang ngetrend.

Mitos #8 – Introvert itu jauh dari kutu buku.
Introvert adalah orang-orang yang umumnya melihat dengan perasaan, memperhatikan pikiran dan emosi mereka sendiri. Bukan berarti mereka tidak mampu memperhatikan apa yang terjadi disekitar mereka, hanya saja dunia dalam diri mereka lebih menstimulasi dan menghargai mereka.

Mitos #9 – Introvert tidak tahu bagaimana untuk santai dan bersenang-senang.
Introvert adalah tipe yang santai saat dirumah atau di alam, bukan di tempat-tempat publik yang ramai. Introvert bukan pencari sensasi dan maniak adrenalin. Jika terlalu banyak pembicaraan atau keributan yang terjadi, mereka jadi tertutup. Saraf otak mereka terlalu sensitif untuk neurotransmitter yang disebut Dopamine(*). Introvert dan Extrovert memiliki jalur saraf utama yang berbeda. Itu saja

Mitos #10 – Introvert dapat memperbaiki diri sendiri dan menjadi Extrovert. Sebuah dunia tanpa Introvert akan menjadi dunia dengan sedikit ilmuwan, musisi, seniman, sastrawan, pembuat film, dokter, matematikawan, penulis, dan filosof. Dikatakan bahwa, banyak cara untuk seorang Extrovert bisa mempelajari cara berinteraksi dengan Introvert. (Ya, saya membalik dua istilah ini dengan sengaja untuk menunjukkan padamu bagaimana berat sebelahnya masyarakat kita.) Intovert tidak mampu "memperbaiki diri sendiri" dan mendapatkan rasa hormat untuk temperamen alami dan sumbangsih mereka pada bangsa manusia. Faktanya, suatu studi (Silverman, 1986) menunjukkan bahwa persentasi Introvert meningkat seiring dengan IQ.

Dapat menjadi kehancuran bagi seorang Introvert yang melupakan jati diri mereka hanya untuk bisa berjalan bersama dengan Dunia Dominan-Extrovert. Seperti minoritas lainnya, Intovert dapat berakhir membenci diri mereka sendiri dan yang lainnya karena perbedaan, Jika kamu berpikir kamu adalah seorang Introvert, saya sarankan untuk mencari topik dan membandingkan catatan-catatan seorang Introvert lainnya. Beban tidak saja pada Introvert yang berusaha dan untuk menjadi "normal". Extrovert butuh mengakui dan menghormati kita, dan kita juga perlu menghargai diri sendiri

Ya, saya sendiri menghabiskan 80% hingga 90% waktu dirumah jika tidak ada kegiatan formal seperti kuliah atau kerja. Saya berbicara pada diri sendiri tentang ini dan itu, sebanyak 70% hingga 80% yang saya tulis dan katakan kepada orang lain adalah hal-hal yang saya sesalkan. Saya umumnya mengejek karena saya pikir itu cara yang hangat untuk meningkatkan intimitas dengan satu sama lain. Saya pikir saya itu egois karena hanya datang di suatu perkumpulan karena ingin, dan pergi karena saya memang ingin sendiri. Lebih dari itu, saya banyak berpikir apa yang kalian pikirkan dan rasakan, karena itu berhentilah membicarakan orang dari belakang. Kita manusia yang tidak seimbang dengan perbedaan, tapi justru dengan perbedaan itu kita saling menyeimbangkan diri. :)

Dopamine(*) = saraf ini umumnya terkait dengan sistem reward otak, memberikan perasaan kenikmatan dan penguatan untuk memotivasi seseorang secara proaktif untuk melakukan kegiatan tertentu.