Selasa, 25 Oktober 2016

Menikmati Masa Lalu bag. 1




Blang padang

     Manusia dan semua keberadaan tempatnya sama. Sama - sama selalu berkembang, sama - sama menyimpan kenangan.., jika dahulu seseorang pernah melakukan sesuatu di suatu tempat bersama teman atau bahkan sendiri, mungkin sekaranf sudah bersama istri, suami, anak - anak atau bahkan masih sendiri juga haha #ah memang begitu!

    Aku pernah melakukan apapun disini, dari gila - gilaan bareng sahabat, weekend bareng keluarga, sampai terduduk menangis sendiri atau lari sendiri membakar lemak. Aku pernah melakukannya #percayalah #Radtyadikamodeon

    Pernah ya, disuatu siang dan aku udah lupa kenapa aku sangat sedih waktu itu. Tapiiii, apa yang aku lakukan dan gimana sedih nya masih melekat sampe sekarang #halaah. Disuatu kali, aku merasa begitu kacau dan butuh seseorang untuk menangis #biasalah abege labil hahaa. Mencarilah aku, tapi aku ga nemu satu orang pun yang tepat waktu itu. Bukan! bukan karena aku ga memiliki orang - orang yang baik, tapi memang tidak menemukan waktu dan kondisi yang tepat "waktu itu".  Sampai pada aku berhenti di tempar ini, Blang padang.

   Aku selalu ingat bagaimana aku terduduk dipinggir tempat itu masih dengan helm lengkap dikepala dan aku menangis #please jangan dibayangin >0<. Aku benar - benar menangis siang itu.

"Angin menampar halus pipiku" aah, hal yang bisa aku tulis selepas "mewek" dan siang itu aku benar- benar menangis sendiri ,..



Nge-blog Ceria \ 0 /



Aaah ..  udah lama gak nge - blog ^0^

Bismillah,,

sewaktu aku hendak menulis, aku melihat seekor semut kecil (aku mau nulis apa ini ? #lanjut aja! haha) lalu hati aku bilang "jika kau membunuhnya, maka hilanglah harapan ia hidup. Namun jika kau membiarkan dan menunjukkan jalan keluar, ia tidak mungkin mengganggu mu kecuali Tuhan Yang Berkehendak.

 ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ OPENING ~~~~~~~~~~


hai! i'am a Skripsi Warrior yuhu #hanya di tahun 2016 aja ye!
in sya Allah akan Moveon hihi

Kata orang - orang, rutinitas itu membunuh kreatifitas. hmm,, tapi menurut aku manusia yang membatasi pemikiran itulah yang menjadi predator terbesar membunuh kreatifitas mu. karena apa ?
yah karena gini, kalau kamu ga berfikir apa yang kamu lakuin tiap hari itu adalah rutinitas. hal itu gak akan jadi seperti rutinitas beban yang tertumpuk - tumpuk! #kamu musti percaya sama the power of mindset .

tugas akhir, tugas mingguan, laporan, kewajiban, amanah. itu semua rutinitas dan itu beban (?)

it is as nice as holiday fun at the end of the weekend! if  we can imagine it \ 0 /



           yuhuu

jadi yang sebenarnya tu begini, pemirsah semua. doakan aku istiqomah menulis lagi yah! semoga bermanfaat ^0^





K. O. N. F. L. I. K!

Aku kehilangan bagaimana cara berdamai dengan otak dan hati
Linglung aku!

Aku kira hanya kegilaan ku pada tulip, bintang, angin, dan laut
Lalu aku dapat menulis.
Aku kira puisi itu adalah mereka.

Lalu ada yang datang membuatnya kacau.
Pagi menjadi amat pekat,
Aku seperti tidak di dalam raga ku.

Melanggar komitmen yang aku jaga
Melewati batas lamunan.
Aku tidak berharap apalagi melukis sketsanya
Didalam otakku.
Itu haram bagiku!

Namun ada sesuatu yang tercium magic,

Aku gila kali ini !!

B A T A S





Ada sesuatu yang membuat ku selalu sesak.
Suaru yang aku rasa terus menggunung.
Sesuatu yang ingin aku selesaikan,,
Yang semakin hari aku merasa sesal. ..
Ada mimpi yang ragu ku gapai karena itu,
Ada harap yang ragu tersampai karena itu.
Terhenyuk sering hati bila menjelajah para pemimpi.
Mereka para pengejar ilmu, mereka yang sangat sukses.
Mereka. Amat menghormati, menyayangi. ..
Lalu aku pun ingin begitu,
Tapi selalu saja ini berakhir begini.
Dosa ku pada ibu ~

                

Senin, 27 Juli 2015

Inilah asal kelemahan kita



Bismillahirrahmanirrahim...
Assalamu'alaikum...


tulisan ini amat bijak sekali untuk dijadikan bahan renungan, agar diri smkn bertambah baik dalam pemahaman dan tapak tapak dakwah kita .. Allahumma Aamiiin

dakwatuna.com - Pernahkah kita merasa terhimpit, Saudaraku? Di mana amanah seolah menjadi penjara jiwa. Rutinitas dakwah sudah seperti belenggu yang memberatkan. Kemudian dalam kelelahan itu, kita berpikir bahwa besar sekali pengorbanan yang telah kita lakukan. Namun tidak lama, kita kembali bersedih, mengingat sedikitnya apresiasi yang kita dapat. Reward yang kita raih tidak sebanding dengan cost yang kita keluarkan. Qiyadah rasanya tidak terlalu sensitif terhadap apa yang kita rasakan. Para jundi pun cuek, bak menutup mata dan meninggalkan kita.
Jika itu yang kita rasakan, bersabarlah, Saudaraku. Tidak ada pisau tajam tanpa dibakar dan ditempa. Tidak ada emas indah tanpa dipecah dan dilebur. Boleh jadi rasa sakit yang selama ini kita rasakan adalah sebuah proses, di mana Allah ingin mengajarkan kita tentang arti kekuatan yang sesungguhnya, tentang perjuangan yang sebenarnya, dan tentang pengorbanan yang seutuhnya.
Lihatlah kembali risalah ta’alim yang disusun Hasan al-Banna. Pemikir Islam tersebut mengawali kesepuluh arkanul bai’ah itu dengan al-Fahm (pemahaman). Bahkan, poin al-Fahm ini mengungguli pembahasan yang lain, seperti al-Ikhlas, al-Amal, al-Jihad, at-Tadhiyah (pengorbanan), at-Taat (kepatuhan), ats-Tsabat (keteguhan), at-Tajarrud (kemurnian), al-Ukhuwah, dan ats-Tsiqoh (kepercayaan)! Karena wajar, Saudaraku, pilar-pilar yang lain tidak akan tegak manakala tidak diawali dengan membangun kepemahaman yang kokoh.
Saudaraku, selain penuh onak duri, jalan dakwah ini begitu panjang dan sempit. Itu sebabnya tidak semua orang dapat memasuki dan menjalaninya. Maka Saudaraku, bekalilah diri kita dengan kepemahaman. Karena kekecewaan kita, protes kita, atau keluh kita, boleh jadi adalah bukti ketidakmampuan kita dalam memahami hikmah atas apa yang Allah ajarkan kepada kita. Atau bisa juga disebabkan oleh kurangnya kepemahaman kita dalam memaknai arti dakwah itu sendiri. Berhati-hatilah, Saudaraku. Ketika kita telah merasa berkorban, sesungguhnya kita belumlah berkorban. Karena tidak ada pengorbanan yang diiringi dengan penyesalan. Tidak ada pengorbanan yang disertai dengan kesombongan.
Dakwah ini berat, bagi mereka yang suka mengeluh. Dakwah ini menyakitkan, bagi mereka yang tidak pernah berkorban. Dakwah ini mengecewakan, bagi mereka yang selalu menuntut. Dakwah ini membosankan, bagi mereka yang jauh dari keteladanan. Dan pada akhirnya, dakwah ini hanyalah seonggok nurani yang terkapar, yang menunggu waktu hingga datang seorang juru dakwah yang tulus, kuat, dan teguh dalam mengemban amanah ini.
Ia mau menerima beban, lantaran sadar dan peduli bahwa harus ada yang memikul tanggung jawab ini. Ia siap menjalaninya, karena ia yakin tidak sendiri. Selalu ada ‘tangan-tangan’ tersembunyi yang senantiasa menuntun dan menolongnya. Selalu ada balasan yang besar dan derajat yang tinggi dari-Nya, itulah yang membuatnya tetap tersenyum meskipun ia terluka.
Saudaraku, simaklah apa yang pernah dituturkan Syaikhut Tarbiyah, Ust. Rachmat Abdullah,

“Allah memberi ganjaran yang sebesar-besarnya dan derajat yang setinggi-tingginya bagi mereka yang sabar dan lulus dalam ujian kehidupan di jalan dakwah. Jika ujian, cobaan yang diberikan Allah hanya yang mudah-mudah saja, tentu kita tidak akan memperoleh ganjaran yang hebat. Di situlah letak hikmahnya, yaitu bagi seorang da’i harus sungguh-sungguh dan sabar dalam meniti jalan dakwah ini. Perjuangan ini tidak bisa dijalani dengan ketidaksungguhan, azzam yang lemah, dan pengorbanan yang sedikit.”
Allahu a’lam…

Sumber: http://www.dakwatuna.com/…/436…/inilah-asal-kelemahan-kita/…
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook


Kamis, 19 Februari 2015

Si Mimpi



Hai mimpi,, Bagaimana kabar mu ??
Rasanya malu sekali aku berkata “hai” pada mu, dari jarangnya aku menjenguk mu hihi.. Lama sekali aku tidak menggelitik mu dengan bolpoin mu dengan bolpoin ku. Membulatkan atau mencoret apa yang sudah terkontaminasi dari dunia mu *Si mimpi* sampai dunia ku.
Kau tidak pernah berubah, ya :) tetap saja cantik bagi ku. Dengan segala yang terhampar dan buat aku semangat lagi menjalani hari. Tapi, ada hal yang sering buat aku malu untuk mengunjungi mu. Kau    tahu ? aku terlalu malu pada mu, sebab … sering aku hampir menyerah saja, mengusaikan semuanya dan hidup tanpa aturan yang telah kita sepakati. Kalau sudah begitu, pasti kau menghampiri ku, sambil berkata “ketika menuntut ilmu, sabar dan tenanglah .. pelan pelan saja, dan perhatikan bagaimana Allah menuntun mu kepada sesuatu :). Lalu kau diam sejenak dan berkata lagi “Allah tidak pernah menyuruhm mu memikirkan suatu jalan keluar sampau kau merasa penat. Dia hanya menyuruh mu, jadikan sabar dan shalat sebagai penolong”. Kalau sudah begitu, aku langsung berhenti dari keluh kesah dan menangis, setelah itu sudah.. ku dapati lagi semangat itu.
Terima kasih ya Si mimpi… kau memang tak pernah marah, mengerti sekali akan sifat ku*jadi canggung hehe..
Si mimpi …
Dari siapa kau belajar ? membuat siapa saja yang melihat mu, menjadi begitu bahagia. Pernah ku Tanya itu pada mu, dan jawaban mu selalu  buat ku terdiam ,. Kau bilang “aku adalah Si mimpi, dimana semua mimpi mu ada dan kau coret ia. Kau senang ketika mengurutkannya, kau beri harapan pada ku *Si mimpi*, kau berusaha mewujudkannya. Walau terhitung lama sampai kau malu pada ku dan jarang mengunjungi ku. Aku kerap kesepian, tapi ketika kau berkunjung seketika aku pun bahagia karena kau ku lihat bahagia :) and I’m yours”
Aku terdiam, mendengar jawaban mu ..,
Wahai Si mimpi … aku ingin kau percaya ya,.
Walau tetap, jika ku tulis aku akan menyentuh pelangi suatu saat nanti, kau harus tetap percaya pada ku. Mustahil memang …
“tidak !! itu tidak mustahil ! bahkan kau bisa memeluk pelangi itu, Rahmi” kau langsung menjawabnya
Aku tersenyum mendengarnya. Kau tahu maksudku, tanpa harus ku beritahu. And really I’m yours, Si mimpi :)

Rabu, 02 April 2014
suatu ketika, saat aku merasa seperti merangkak menyusuri Si mimpi .. dan hai, aku di masa depan :) I’ll be waiting for you .. and run !!”


Rabu, 02 Juli 2014

The Genk of Cung Curuk

Di daur ulang menjadi senyum ~

jika di ingat , diperhatikan , di usik kembali cerita dulu .. ada begitu banyak air mata , kekesalan , benci , bahagia yang didaur ulang menjadi senyum .. terlangsung bibir menjelma menjadi sabit indah di wajah bila ku kenang memori dulu .. gambar gambar wajah polos tidak diragukan pastilah punya dosa itu membuat aku terpingkal pingkal kadang dalam tawa , seringkali tawa itu hadir sendiri .. maklumlah , kenangan kalian kerap hadir dalam ruangan hangat tempat aku melepas penat .. syukur tiada terkira ,, saat aku masih bisa melihat dan mengikuti bagaimana aku , kita membuktikan coretan mimpi mimpi yang sering kita aung aungkan ., terkhusunya lagi ,, engkau kini, masih bernama SAHABAT 


Hujjatul Balighah Sari Ridwan Daud BanTa Noor Arafah Mumtazah