Rabu, 02 Juli 2014

The Genk of Cung Curuk

Di daur ulang menjadi senyum ~

jika di ingat , diperhatikan , di usik kembali cerita dulu .. ada begitu banyak air mata , kekesalan , benci , bahagia yang didaur ulang menjadi senyum .. terlangsung bibir menjelma menjadi sabit indah di wajah bila ku kenang memori dulu .. gambar gambar wajah polos tidak diragukan pastilah punya dosa itu membuat aku terpingkal pingkal kadang dalam tawa , seringkali tawa itu hadir sendiri .. maklumlah , kenangan kalian kerap hadir dalam ruangan hangat tempat aku melepas penat .. syukur tiada terkira ,, saat aku masih bisa melihat dan mengikuti bagaimana aku , kita membuktikan coretan mimpi mimpi yang sering kita aung aungkan ., terkhusunya lagi ,, engkau kini, masih bernama SAHABAT 


Hujjatul Balighah Sari Ridwan Daud BanTa Noor Arafah Mumtazah





Senin, 12 Mei 2014

SI TEDI

UNTUK SI  TEDI “ My coklate diary “
Coba ku dengar, gerangan apa yang kau punya ..
Selain sampul dan lembar – lembar kertas .,
Coba ku dekap, oh mengapa tak ada detakan disana ?
Pantas kau selalu diam ..     
Tak bergeming, walau alunan bolpoin ku
Mungkin dapat menggelitikmu ,
Kau tetap diam, selalu diam ..
Aku ingin kita membuat kesepakatan ,.
Kita membuat sebuah jalinan ,
Namun kurasa itu mustahil, sebab tak ku dengar detak jantung mu berirama seperti ku ..
Tapi kau tetap utuh, seorang yang selalu ku sayang
Walau bicara ku hanya lewat syair kata
Ku lukis dengan tinta bolpoin ini
Kau tetap, tetap seorang yang selalu ku sayang ..
Dengan apapun yang kau punya ,.
Sampul mu,
Lembaran – lembaran mu ..

Oh my Magic Book J


That's ALL

“ Seperti rasanya, baru kemarin aku memarkir motor dikampus itu “
   Coletah ku dalam hati tak kunjung sunyi, sebab tak akur dengan takdir. Ramai lalu lalang mereka tak mengusik aku yang mengego sendiri.. ku perhatikan mereka, namun tak ada binar kagum yang menyala-nyala, sampai akhir aku sudah bahkan tak ada pilihan hingga aku pasrah menapaki laluan disini .. ya, Fakultas pertanian ..,
   Ini serentetan satu dari banyak Quote yang ku rangkaian dari ketak-menerima ku atas takdir ini, hingga akhirnya aku menemukan yang Tuhan maksud pada tempat ini “jalannya para malaikat-malaikat” itu kata orang-orang awam disana, dan yang sesungguhnya ku temukan ialah “jalan dakwah” ..
    Sampai aku melupakan ego-ego dahulu, bukan karna penerimaan, tapi karena keasyikan berupa kesibukkan lain. Disini aku menemukan sesuatu, mereka menyapa dengan cara yang berbeda..
    Jalannya sukar, tak ramai, dianggap kuno, gak banget lah .. ya, namun saat Tuhan membuat ku melihat ada sesuatu yang luar biasa pada tempat ini, mengapa aku harus menjadi biasa ?
Jalan ini, bukan sekedar jalan yang memiliki trotoar, banyak persimpangan, terdapat lampu merah .. kau tahu hutan belantara ? jalan nya sulit dilihat, bahkan ditapaki. Tapi saat kau masuk, kelimpahannya meruah, bisa kau kutip sumber daya didalamnya, nah begitulah lebih kurangnya ..
   Disini,mereka membuatku merasa terus dipaksa. Sebuah pemaksaan yang tak banyak manusia-manusia ingin memaksa didalam hal yang kaya gini .. selalu datang paksaan terus menjadi baik, ruhiyah harus ditingkatkan, jangan tabarruj, peduli pada lingkungan dan memaksaku untuk menjadi pribadi yang tak bermasalah,. Sebuah pemaksaan yang tak biasa bukan ?
Rasanya baru kemarin, aku memakir motor untuk pertama kali di tempat itu. Dengan waktu-waktu yang terus bergulir tanpa mungkin dapat menunggu.. saat seperti itu akan selalu aku meng-rindu J
Terima kasih Tuhan, sungguh rencana Mu, How Wonderful J
LDK AL-IHSAN PERTANIAN


Senin, 24 Maret 2014

Coba Hitung Seberapa Jauh Tabukmu ?


Oleh : Ustad Cahyadi Takariawan

Apakah yang terjadi pada seorang Ka’ab bin Malik ? Ya, ia tidak berangkat ke Tabuk. Masyaallah, harusnya ia berangkat. Sebagaimana perang-perang sebelumnya, bukankah ia tidak pernah absen ? Mengapa ia tidak berangkat menuju Tabuk, padahal Nabi dan para sahabat telah berangkat ?

Pasti ia punya kondisi dan situasi yang membuatnya tidak berangkat. Ada sesuatu di balik ketidakberangkatannya.

Fasilitas Itu….

“Aku sama sekali tidak pernah absen mengikuti semua peperangan bersama Rasululah saw, kecuali dalam perang Tabuk. Ketidakikutsertaanku dalam perang Tabuk itu karena diriku dilalaikan oleh perhiasan dunia. Ketika itu keadaan ekonomiku jauh lebih baik daripada hari-hari sebelumnya. Demi Allah, aku tidak pernah memiliki barang dagangan lebih dari dua muatan onta, akan tetapi pada waktu peperangan itu aku memilikinya”.

Masyaallah. Demikian lugas pengakuan Ka’ab, “Ketidakikutsertaanku dalam perang Tabuk itu karena diriku dilalaikan oleh perhiasan dunia”.

Ternyata bukan hanya “orang awam” yang bisa dilalaikan oleh perhiasan dunia. Seorang mujahid, sahabat Nabi, terlahir menjadi generasi terbaik sepanjang sejarah kemanusiaan, tetap bisa terlalaikan oleh perhiasan dunia. Kurang apa Ka’ab. Tidak pernah absen dalam seluruh peperangan, benar-benar mujahid setia.

“Demi Allah, aku tidak pernah memiliki barang dagangan lebih dari dua muatan onta, akan tetapi pada waktu peperangan itu, aku memilikinya”.

Artinya, bukan soal fasilitas yang menyebabkan Ka’ab tidak berangkat ke Tabuk.

Di zaman kita sekarang, Tabuk itu tidaklah jauh. Sesungguhnya Tabuk kita lebih simpel dibandingkan di zaman Ka’ab. Namun “ketidakberangkatan” tetap saja terjadi. Coba ukur, seberapa jauh Tabukmu ?

Ada yang merasakan kesulitan ekonomi, yang menyebabkannya memiliki banyak keterbatasan dalam mengikuti kegiatan dakwah. Ia mengatakan, “Andai aku punya motor, tentu akan lebih banyak kegiatan dakwah yang bisa aku lakukan”. Ketika punya motor ternyata ia masih merasa banyak keterbatasan. “Andai aku punya mobil, tentu aktivitasku menjadi lebih leluasa”. Saat memiliki mobil, tetap saja banyak alasan. “Andai mobilku bagus, pasti tidak ada lagi kendala berkegiatan”.

Saat mobilnya sudah bagus, ternyata tetap saja ia tidak tergerak untuk aktif berdakwah. Apa yang terjadi padanya ? Padahal sekian banyak mujahid dakwah berjalan kaki melakukan kegiatan, dan berlelah-lelah di tengah keterbatasan sarana serta fasilitas. Dakwah tetap berjalan tanpa tergantung kepada ketersediaan dan kelengkapan fasilitas.

Mengapa ada yang tetap tidak berangkat ?

Panas, Jauh, Lelah….

“Peperangan ini Rasulullah saw lakukan dalam kondisi panas terik matahari gurun yang sangat menyengat, menempuh perjalanan nan teramat jauh, serta menghadapi lawan yang benar-benar besar dan tangguh… Rasulullah saw mempersiapkan pasukan yang akan berangkat. Aku pun mempersiapkan diri untuk ikut serta, tiba-tiba timbul pikiran ingin membatalkannya, lalu aku berkata dalam hati : Aku bisa melakukannya kalau aku mau!”

Bukan panas musim kemarau seperti yang sering kita alami di Indonesia, namun panas terik matahari gurun yang sangat menyengat. Sangat panas, harus menempuh perjalanan yang jauh, dan “hanya” untuk berperang. Bukan untuk rekreasi, bukan untuk wisata kuliner, bukan untuk menginap di hotel berbintang, bukan untuk tamasya dengan keluarga. Sangat panas, sangat jauh, naik kuda atau unta, tentu akan sangat lelah, dan di sana telah menunggu musuh yang sangat tangguh.

Tabuk di zaman Ka’ab sungguh jauh. Tidak ada pesawat terbang, tidak ada mobil ber-AC, tidak ada sarana yang memadai untuk menempuh jarak yang sedemikian panjang dan cuaca yang sangat panas terik.

Di zaman kita sekarang, Tabuk itu tidaklah jauh, tidak panas terik. Ada pesawat terbang, ada kereta api eksekutif, ada bus eksekutif, ada taksi, ada travel, ada mobil ber-AC, ada motor, ada sepeda. Tabuk kita bahkan tidak panas, namun “ketidakberangkatan” tetap saja terjadi. Sebenarnya, seberapa jauhkah Tabukmu ?

Awalnya kita merasa “Aku bisa melakukannya kalau aku mau !” Ah, tapi apa yang aku dapat kalau berangkat ?

Mengaji, di tempat para murabbi bahkan kita disuguhi. Rapat, di tempat pertemuan tersedia banyak jajanan. Berbagai agenda dakwah, seperti tatsqif, mabit, daurah, bahkan mukhayam, semua full fasilitas. Apa yang menghalangi untuk datang ke berbagai agenda dakwah tersebut ? Apa yang menjadi alasan ketidakberangkatan ?

Apa sebenarnya perang kita ? Apa yang ada di Tabuk kita ?

Dikuasai Kemalasan

“Akhirnya aku terbawa oleh pikiranku yang ragu-ragu, hingga para pasukan kaum muslimin mulai bergerak meninggalkan Madinah. Saat aku lihat pasukan kaum muslimin mulai meninggalkan Madinah, timbul pikiranku untuk mengejar mereka, toh mereka belum jauh. Namun, aku tidak melakukannya, kemalasan menghampiri dan bahkan menguasai diriku…”

Di zaman kita, ada yang melihat orang lain yang sangat aktif dan dinamis dengan berbagai agenda dakwah, sempat terpikir “Aku masih bisa mengejar mereka”. Ya, aku akan menyusul mereka. Tapi mengapa tidak engkau lakukan ? Mengapa tidak engkau susul mereka ? Mengapa engkau tetap tidak berangkat ? Apa alasan ketidakberangkatanmu ?

“Kemalasan menghampiri dan bahkan menguasai diriku……”

Padahal kita tidak bertemu panas terik gurun pasir. Kita tidak bertemu jarak yang demikian jauh untuk ditempuh dengan kaki. Yang kita temui adalah sarana dan fasilitas yang lengkap. Acara dari hotel ke hotel. Kegiatan dari rumah ke rumah. Rapat dari ruang ke ruang. Koordinasi dari gedung ke gedung. Semua nyaman, semua menyenangkan, semua sejuk, semua penuh dengan suguhan.

Mengapa tetap terjadi ketidakberangkatan ? Apa alasan kita ?

"ingatkan jika saya khilaf"

Rabu, 19 Maret 2014

Cahaya di Langit itu

Ketika cahayamu menerangi duniaku
Sebtuhan tangan itu memelukku penuh cinta
Saat dalam keangkuhan dan meremehkan takdirku
Setia ku dalam cinta hampir kehilangan arah

Tersadarku dan berfikir ridhonya surge duniaku
Seperti ku terbang dilangit tinggi
Ku temui satu titik cahaya-Mu
Ku lihat ada malaikat kecil-Mu

Membisikkan ku tuk tetap disini, ku tersimpuh
Perjalanan ini
Kuatkan iman ku
Tuk arungi hidup
Nilai cinta dengan kasih Mu

Seperti ku terbang dilangit tinggi
Temui satu titik cahaya-mu
Ku lihat ada malaikat kecil-Mu
Membisikkan ku tuk tetap disini

Seperti ku terbang dilangit tinggi
Temui satu titik cahaya-mu
Ku lihat ada malaikat kecil-Mu
Membisikkan ku tuk tetap disini, ku tersimpuh
Nilai cinta dengan kasih Mu

















Rabu, 05 Maret 2014

Tuhan, ingin aku menjadi

Banyak pahit manis, juga gak ketinggalan kaya gula dan garam .
manusia itu memang perlu di ingatkan. bukan tidak tau,. SUDAH TAHU :) , hanya perlu diingatkan ..,
  coba di buka lembar demi lembar Quotes yang dulu dulunya sering dicetus, bisa jadi pengkuatan untuk mengisi energi baru . masalalu adalah guru terbaik, meski juga sering menjadi kesakitan terbaik . 
   Aku selalu berdoa "Tuhan, jadikan aku seperti Kau ingin aku jadi" ..
Nah inilah dia,,. ini inginnya Tuhan, aku menjadi .. maka tersenyumlah pada hari Tuhan ingin aku menjadi *katakan itu pada dirimu sendiri ..
Hidup itu, wah banyak sekali tentang makna dari hidup itu sendiri . dan aku memaknai salah satu nya ialah pelengkap . ketika aku , Tuhan inginkan hidup di pagi, di sore, dan dimalam . ya , aku menjadi pelengkap, dimana pun itu ku temui kekurangan ..
   Ada dimana aku bertanya , mengapa mereka tertawa sedang aku berdiam ? . mengapa mereka menyanyi sedang aku parau ?, dan mengapa mereka menangis sedang aku tersenyum lebar ? ..
Dan begitulah maknanya , hidup ini pelengkap ., ketika ada yang tertawa, harusnya ada yang terdiam, ketika ada yang menyanyi harusnya ada yang parau, dan ketika ada yang menangis harusnya ada yang tersenyum lebar .,
     Melengkapi karena kita tak sama, ..
Sungguh, Tuhan Maha Sempurna Dengan Segala Yang Betebaran di Bumi ini dan di Langit sana ..,
Jangan lupakan apa yang pernah terkata kata oleh mu, bisa jadi kata kata mu kini akan menjadi pengkuatan mu dikemudian hari.   
    Seperti aku menulis tanpa arah, bukan tanpa tujuan .. jangan dimaknai makna nya J , tak usaah J

Yang ingin aku katakan ialah , aku mencintai huruf tapi tak membenci angka, aku mencintai tulip meski sempat mengagumi mawar berduri, mencintai awan yang selalu begitu .. begitu rapi, coraknya menarik beserta jajarannya haha, ya,  angin, bintang , mereka , tak lupa , aku begitu mencintai laut . Ini bukti Tuhan ingin aku menjadi J

Jumat, 28 Februari 2014

Biarlah Menjadi Perahu Kertas

Semuanya tak semudah membalikkan telapak tangan. Sesuatu yang telah kamu cita-citakan belum tentu dapat tercapai secara pasti. Sesuatu yang kamu rencanakan, belum tentu berjalan dengan baik. Terkadang, kita juga harus menelan pil pahit. Cita-cita itu bagaikan bintang di langit. Sangat indah dilihat, namun susah dan bahkan mustahil untuk digapai. Atau seperti perahu kertas yang mengalir dan terus mengalir di sungai. Entah akan berhenti dimana, entah akan sampai dimana. Namun suatu saat, perahu kertas itu akan berhenti juga. Bisa jadi sampai kemuara sungai, atau pun tenggelam tertabrak sampah. Mimpi, Mimpi, Mimpi…..

Biarlah menjadi perahu kertas, dan mengalir bersama air








Terhitung 3 Hari ,.

Aku kira biasa ,
Aku kira bisa ,,. .
Dan ku pastikan menjadi terlupakan … ,

    Satu komponen komplit, dan begitulah cara ku menghibur diri, menguatkan dari bilik ketangguhan yang nyaris aku kehilangan kendali dari hati yang sedemikian ku jaga, erat , melantunkan batas – batas dan komitmen . Hitungan 3 hari saja, saat tapak tapak mu mulai ku perhitungkan ,  aku berbuat bukan lagi aku saja yang ingin ., walau itu hanya hitam putih warna mu, dan nyaris, aku selalu tahu . Miris, terhitung tiga hari ,..
    Awal hadirnya, aku benci . Membuat ku harus menatap terheran, terpaku sejenak . Ku tepis langsung saja, tapi rasa memuji seketika ..
   Pena ku bermain di penghujung, sungguh, ini sangat menyita . focus ku, kendali ku .  semua teruji ,. Kau ! terhitung tiga hari, lalu melayang menembus sesuatu yang tak bisa aku pula ikut menembus nya .  Ada dimana, ku panggil lengking sekali logika ku dan A-yolah .,
    Ahh .., Ia hanya selambaian angin yang harus ku lalui, tak cukup adil bila ku jadikan satu yang tersesali .. Saat mata beradu, secepat kedip harus ku menunduk .., Mungkin , selambaian ini cukup indah untuk aku kagumi penciptanya ,. Oh terhitung tiga hari,. Semua sudah berawal dan berakhir disini ..,

                                                                                                                             25 Februari 2014

                                                                                                                               Di sudut Mushalla

Kamis, 27 Februari 2014

Sepotong yang Lalu ..,

Ada apa dengan merah jambu ???
Ia hadir , yang biasanya perlahan , ku sukai .. namun yang ini ..,
Ahhhh  …

Ada apa dengan hati ku ??
Debar ini, begitu ku benci ..
Ini sangat  Instan, tak ku suka . aku benci ..
         
           Aku kehilangan kata kata untuk menulis yang ku suka ,
          Aku benci, apa yang ku gores
          Tariannya jelek dan aku benci !!!

Tapi aku terus mencari ,,
Mencari sesuatu yang ku benci ,
Yang jalannya menunduk ketika aku terkejut
Yang ia tersenyum ketika aku baru saja menunduk

Ingin aku anggap ia seperti angin
Ngiang ngiang lalu , dan selalu berlalu
          
               Tapi ,,,
    
  Ia memang angin , dan segera berlalu
Berlalu pergi sampai waktu tidak kan menjawab
 Seberapa lama atau mungkin memang takan kembali ..

Ia benar, hanya bagian yang lalu
Yang selalu menjadi berlalu dalam laluan ku

Hah … itu saja ,.

Rabu, 19 Februari 2014

Bukan Kalimat Perpisahan ,., untuk Ukhty Desi Almonika

                              Presented by Al-Ihsan
Rasanya, sebentar sekali kau disini , ukhty ..,
Atau aku , yang baru sebentar mengenal mu ?
    Oh entahlah ..
Ku lihat bias wajah mu, disana ada bangga ,
Syukur , dan tak terdefinisikan ..
    Kau selalu hadir dalam lingkar senyum , tapi lara perpisahan,
Semua pun tahu.. ini berat rasanya ,
Tergores dalam sekali jejak mu disini ..,
Tak ada yang ingin menghapusnya ,.
           Bahkan jarak ,
    Tak kita lihat seperti hambatan ..
Justru ku lihat, ini lah ladang dakwah mu ,,
Yang coba Tuhan perkenalkan ia,
Pada tempat yang baru ..
       Kita ini bak pelangi , maka engkau harus tetap didalam jejerannya ..
Dakwah ini adalah Matahari, tak peduli dimana pun, jangan biarkan dirimu redup ,.
Ini bukan kata perpisahan, hanya saja coba ingin ku jinakkan cara kita,
Kan berbagi nanti J









Kamis, 13 Februari 2014

Menjauh dari Sanjungan

Suatu hari saat berkumpul bersama para sahabat, Rasulullah saw bersabda,“Sesungguhnya di antara pepohonan, ada satu pohon yang tidak gugur daunnya. Pohon ini seperti seorang Muslim, sebutkanlah kepadaku pohon apakah itu?” Para sahabat menerka dengan menyebut pohon-pohon di sekitar lembah, tapi tak satu pun jawaban yang benar. Rasulullah berkata, “Ia adalah pohon kurma.”
Di tengah kumpulan para sahabat kibar (tokoh sahabat) itu, ada seorang anak kecil. Ia ingin ikut menjawab, namun karena hormat kepada Abu Bakar, Umar, Utsman, dan sahabat senior lainnya, ia mengurungkan niatnya. Dalam lanjutan hadits ini, Abdullah bin Umar—si anak kecil cerdas—bertutur, “Saat itu terbesit dalam diriku bahwa pohon itu pohon kurma, namun aku malu mengungkapkannya.”
Sahabat, bergaul dengan banyak orang memberikan peluang kepada kita untuk banyak mengambil hikmah dan pelajaran. Dari pergaulan, kita mengenal secara nyata mana sikap baik dan buruk, mana yang menyenangkan dan meresahkan, mana yang membuat orang lain nyaman dan tidak, dan sebagainya.
Beragam kondisi dan sikap orang lain yang kita temui tak seharusnya membuat kita merasa terbaik, merasa paling tahu, atau merasa lebih dari orang lain. Pergaulan itu sesungguhnya mendatangkan sikap sadar diri bahwa kita perlu banyak belajar. Itulah sebabnya Allah swt mengingatkan di surat An-Najm ayat 32, “(Yaitu) mereka yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji, kecuali kesalahan-kesalahan kecil. Sungguh, Tuhanmu Maha luas ampunan-Nya. Dia mengetahui tentang kamu, sejak Dia menjadikan kamu dari tanah lalu ketika kamu masih janin dalam perut ibumu. Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia mengetahui tentang orang yang bertakwa.”
Sahabat, dalam konteks pergaulan kita dengan orang yang usianya lebih tua, Ibnu Umar mencontohkan bagaimana kita harus selalu sadar diri. Malu Ibnu Umar dalam majelis itu bukan karena ia pemalu, tapi karena rasa hormat terhadap para tokoh sahabat.
Ia menahan diri untuk memperlihatkan kecerdasannya karena khawatir mendapat sanjungan yang membuatnya tinggi hati. Ia lebih suka berhati-hati terhadap segala kemungkinan hinggapnya “rasa” yang akan menodai hatinya. Ibnu Umar memilih untuk tidak populer di forum itu demi keselamatan hatinya. Demikianlah Ibnu Umar, ia dikenal sebagai sahabat yang tak ingin terlihat menonjol di antara tokoh sahabat lainnya.
Di tengah hiruk-pikuk kemajuan ilmu pengetahuan dan informasi ini, mampukah kita menjadi sosok seperti Ibnu Umar, yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa, namun selalu menjaga kebersihan hati untuk tidak haus pujian?

Selasa, 11 Februari 2014

" YOU "

Cahanya lain , jika ku temukan ,,
Satu titik sedang ada disana .. ,
Dan titik itu adalah kamu ,

Seindah benda bulat yang menggelantung
Saat senja mulai mengu-sik
Dan benda itu ku namai mentari ..

Dan kau sama seperti mentari itu ,,
Memberi warna lain , saat .,
Ada rasa lain yang mengusik

Maukah kau membuat ,,
Yang berjarak menjadi dekat ?
Yang tersirat menjadi sangat jelas ??

Dalam diam coba ku hantar ,,
Ku hantar pada – Nya ..,
Dan ku titip pula kau pada – Nya ..,

Jalan ini begitu berliku ,,
Dan cahaya mu, rupanya ada ..
Dalam satu likuan itu ,,

Dan kau percaya ?
Kan ku lewati liku itu,
Ku harap kau mau bersama

Melewati, jika ternyata kita berjumpa :)

The Way

         Oh , aku selalu suka pada angin ..
Angin sore menuju malam ,..
Angin malam menuju pagi .. .
Aku suka, suka sekali ..,
           Bergegaslah, wahai aku yang kerap mencari –mencari ..
          Apalagi yang kau fikirkan ? Terlalu sering,
         Dan ku rasa cukup kau begini ..
Kau paham hakikat  engkau !  Tapi paham saja tak cukup !!
Lakukan apa yang dirimu ingin lakukan ,. Bergerak !
                 Ayunkan langkah kaki mu, kenakan sesuatu ..
                Seperti yang pernah kau katakan,
“Berjalan lah  terus saja, meskipun kau bingung hendak kemana . Biarkan Tuhan
Yang menuntun mu kepada sesuatu”
      Sepoi angin kala ini, begitu lain …
Tenyata , bukan lah angin nya yang begitu lain ,sayang ..
Tapi cara mu merasakan sepou itu .
Cara mu , Ya, cara mu ..
Disuatu Senja ,…
Rahmi Djauhari
24 Januari 2014

16 : 05

Selasa, 04 Februari 2014

#10 Mitos Tentang Introvert


Dari tulisan Carl King yang di copy-paste, copy-paste, copy-paste, dan akhirnya saya terjemahkan dengan sedikit penambahan. Tulisan ini saya rasakan, dan saya percaya beberapa. :)

Mitos #1 – Introvert tidak suka bicara.

Ini tidak benar. Introvert tidak bicara sampai mereka mempunyai sesuatu untuk dibicarakan. Mereka tidak menyukai pembicaraan kecil. Coba lah berbicara pada introvert tentang hal-hal yang mereka tertarik di dalamnya, dan mereka tidak akan berhenti berbicara sampai beberapa hari. ^_^

Mitos #2 – Introvert itu pemalu.
Rasa malu tidak ada hubungannya dengan sifat Introvert. Introvert tidak terlalu takut pada orang-orang. Apa yang mereka butuhkan adalah alasan untuk berinteraksi. Mereka tidak berinteraksi karena ingin berinteraksi. Jika kamu ingin berbicara pada seorang Introvert, mulai saja berbicara. Tidak perlu takut untuk berusaha sopan. Kadang-kadang seorang introvert juga mencari kesempatan untuk berbicara.

Mitos #3 – Introvert itu kasar. 
Introvert tidak melihat alasan untuk berbicara dengan basa-basi. Mereka ingin setiap orang berbicara terus terang dan jujur. Sayangnya, hal ini tidak diterima di kebanyakan situasi, jadi Introvert dapat merasa banyak tekanan untuk masuk di situasi-situasi tersebut, yang mereka temukan membuat mereka lelah.

Mitos #4 – Introvert tidak suka orang-orang.
Sebaliknya, Introvert justru menghargai sedikit teman yang mereka punya. Mereka dapat menghitung teman dekat hanya dengan satu tangan. Jika kamu cukup beruntung mendapatkan seorang Introvert yang menganggap kamu seorang teman, barangkali kamu menemukan teman sejati untuk seumur hidup. Sekali saja kamu mendapatkan rasa hormat mereka sebagai substansi seorang teman, maka kamu sudah terhitung.

Mitos #5 – Introvert tidak suka pergi di keramaian.
Tidak mungkin. Introverts hanya tidak suka berada di keramaian UNTUK WAKTU YANG LAMA. Mereka cenderung menjauhi komplikasi yang terjadi di aktifitas publik. Mereka mengumpulkan kesan dan pengalaman dengan sangat cepat, dan sebagai hasil, tidak merasa butuh disana untuk "mendapatkannya". Mereka selalu siap untuk pulang kerumah, mengingat ulang, dan memprosesnya semua. Faktanya, mengingat ulang adalah hal yang paling penting untuk Introvert.  

Mitos #6 – Introvert selalu ingin sendiri.
Introvert merasa nyaman dengan rasa pikirnya sendiri. Mereka banyak berpikir. Tukang melamun. Mereka suka memiliki masalah untuk dikerjakan, atau teka-teki untuk dikerjakan. Tetapi mereka juga dapat merasa luar biasa kesepian jika mereka tidak mempunyai seorang pun untuk membagi hal-hal yang mereka temukan.  Mereka mendambakan hubungan yang asli dan tulus dengan SATU ORANG pada satu waktu.

Mitos #7 – Introvert itu aneh.
Introvert seringnya seorang individualis. Mereka tidak mengikuti hal-hal umum. Mereka memilih menghargai cara mereka hidup. Mereka berpikir untuk diri sendiri dan karena hal itu, mereka sering menantang hal-hal umum. Mereka tidak membuat banyak keputusan berdasarkan apa yang sedang populer atau sedang ngetrend.

Mitos #8 – Introvert itu jauh dari kutu buku.
Introvert adalah orang-orang yang umumnya melihat dengan perasaan, memperhatikan pikiran dan emosi mereka sendiri. Bukan berarti mereka tidak mampu memperhatikan apa yang terjadi disekitar mereka, hanya saja dunia dalam diri mereka lebih menstimulasi dan menghargai mereka.

Mitos #9 – Introvert tidak tahu bagaimana untuk santai dan bersenang-senang.
Introvert adalah tipe yang santai saat dirumah atau di alam, bukan di tempat-tempat publik yang ramai. Introvert bukan pencari sensasi dan maniak adrenalin. Jika terlalu banyak pembicaraan atau keributan yang terjadi, mereka jadi tertutup. Saraf otak mereka terlalu sensitif untuk neurotransmitter yang disebut Dopamine(*). Introvert dan Extrovert memiliki jalur saraf utama yang berbeda. Itu saja

Mitos #10 – Introvert dapat memperbaiki diri sendiri dan menjadi Extrovert. Sebuah dunia tanpa Introvert akan menjadi dunia dengan sedikit ilmuwan, musisi, seniman, sastrawan, pembuat film, dokter, matematikawan, penulis, dan filosof. Dikatakan bahwa, banyak cara untuk seorang Extrovert bisa mempelajari cara berinteraksi dengan Introvert. (Ya, saya membalik dua istilah ini dengan sengaja untuk menunjukkan padamu bagaimana berat sebelahnya masyarakat kita.) Intovert tidak mampu "memperbaiki diri sendiri" dan mendapatkan rasa hormat untuk temperamen alami dan sumbangsih mereka pada bangsa manusia. Faktanya, suatu studi (Silverman, 1986) menunjukkan bahwa persentasi Introvert meningkat seiring dengan IQ.

Dapat menjadi kehancuran bagi seorang Introvert yang melupakan jati diri mereka hanya untuk bisa berjalan bersama dengan Dunia Dominan-Extrovert. Seperti minoritas lainnya, Intovert dapat berakhir membenci diri mereka sendiri dan yang lainnya karena perbedaan, Jika kamu berpikir kamu adalah seorang Introvert, saya sarankan untuk mencari topik dan membandingkan catatan-catatan seorang Introvert lainnya. Beban tidak saja pada Introvert yang berusaha dan untuk menjadi "normal". Extrovert butuh mengakui dan menghormati kita, dan kita juga perlu menghargai diri sendiri

Ya, saya sendiri menghabiskan 80% hingga 90% waktu dirumah jika tidak ada kegiatan formal seperti kuliah atau kerja. Saya berbicara pada diri sendiri tentang ini dan itu, sebanyak 70% hingga 80% yang saya tulis dan katakan kepada orang lain adalah hal-hal yang saya sesalkan. Saya umumnya mengejek karena saya pikir itu cara yang hangat untuk meningkatkan intimitas dengan satu sama lain. Saya pikir saya itu egois karena hanya datang di suatu perkumpulan karena ingin, dan pergi karena saya memang ingin sendiri. Lebih dari itu, saya banyak berpikir apa yang kalian pikirkan dan rasakan, karena itu berhentilah membicarakan orang dari belakang. Kita manusia yang tidak seimbang dengan perbedaan, tapi justru dengan perbedaan itu kita saling menyeimbangkan diri. :)

Dopamine(*) = saraf ini umumnya terkait dengan sistem reward otak, memberikan perasaan kenikmatan dan penguatan untuk memotivasi seseorang secara proaktif untuk melakukan kegiatan tertentu.

Senin, 13 Januari 2014

PERNAH, AKU INGIN ..,

Pernah ku cerita lewat tinta ., Pernah ku toreh menjadi kata,
membentuk gagasan yang katanya bagus
tapi bukan itu yang ku mau ! ..
Gagasan gagasan yang ada, mereka menjadi nada ku ,
saat mulut tak dapat melantun,
lidah kelu untuk menari ,. Ia hidup
membentuk prinsip yang katanya  indah
tapi bukan itu yang ku mau !

Pernah aku ingin, mendamaikan yang beda menjadi baur
mereka ku ingin jalan beriringan
menapaki satu jalan yang meski proses berbeda ..

Pernah aku meng-ego ,,
ingin menjadi pengubah ,..
bukan maksud ingin terdepan tapi hanya mengubah ..

Pernah aku ingin ,
Pernah aku ingin
Pernah aku ingin
Ya, aku pernah setidaknya !!

Menjadi seorang penganut ingin dengan tulus
Tak tau ingin itu ingin suatu yang sulit,
Ia sukar ..
Hingga ketika aku lakoni,
pada laluannya aku keasyikan melakoni
yang ku setujui dari salah satu yang beda itu ..
mereka sering bertikai , lalu aku ikut didalamnya hingga,
menjadi yang pro, juga kontra ..

Saat aku dapat melihat, tak harus aku gunakan gagasan apapun
Saat mulut terkatup, saat tangan tak mengukir .
jelas! jelas sekali aku melihat
Lalu ku rekam saja dengan fikiran ..

Menjadi pengubah .. General sekali maknanya ..
Menjadi pengubah , itu harus terdepan ..
Menjadi pengubah, itu harus pembenar ..
Menjadi pengubah, itu harus menjadi sesuatu ..

Pernah aku ingin, hingga aku mengerti ...,

Terobos dulu kemenangan, hingga harus kan ada
yang menjadi kalah ..
Untuk melunakkan ke-ego-an
memberi pemahaman ..
Suatu tujuan yang nyata , sama ..

Pernah aku ingin, hingga kini,
aku masih kan tetap ingin ..,