Senin, 27 Juli 2015

Inilah asal kelemahan kita



Bismillahirrahmanirrahim...
Assalamu'alaikum...


tulisan ini amat bijak sekali untuk dijadikan bahan renungan, agar diri smkn bertambah baik dalam pemahaman dan tapak tapak dakwah kita .. Allahumma Aamiiin

dakwatuna.com - Pernahkah kita merasa terhimpit, Saudaraku? Di mana amanah seolah menjadi penjara jiwa. Rutinitas dakwah sudah seperti belenggu yang memberatkan. Kemudian dalam kelelahan itu, kita berpikir bahwa besar sekali pengorbanan yang telah kita lakukan. Namun tidak lama, kita kembali bersedih, mengingat sedikitnya apresiasi yang kita dapat. Reward yang kita raih tidak sebanding dengan cost yang kita keluarkan. Qiyadah rasanya tidak terlalu sensitif terhadap apa yang kita rasakan. Para jundi pun cuek, bak menutup mata dan meninggalkan kita.
Jika itu yang kita rasakan, bersabarlah, Saudaraku. Tidak ada pisau tajam tanpa dibakar dan ditempa. Tidak ada emas indah tanpa dipecah dan dilebur. Boleh jadi rasa sakit yang selama ini kita rasakan adalah sebuah proses, di mana Allah ingin mengajarkan kita tentang arti kekuatan yang sesungguhnya, tentang perjuangan yang sebenarnya, dan tentang pengorbanan yang seutuhnya.
Lihatlah kembali risalah ta’alim yang disusun Hasan al-Banna. Pemikir Islam tersebut mengawali kesepuluh arkanul bai’ah itu dengan al-Fahm (pemahaman). Bahkan, poin al-Fahm ini mengungguli pembahasan yang lain, seperti al-Ikhlas, al-Amal, al-Jihad, at-Tadhiyah (pengorbanan), at-Taat (kepatuhan), ats-Tsabat (keteguhan), at-Tajarrud (kemurnian), al-Ukhuwah, dan ats-Tsiqoh (kepercayaan)! Karena wajar, Saudaraku, pilar-pilar yang lain tidak akan tegak manakala tidak diawali dengan membangun kepemahaman yang kokoh.
Saudaraku, selain penuh onak duri, jalan dakwah ini begitu panjang dan sempit. Itu sebabnya tidak semua orang dapat memasuki dan menjalaninya. Maka Saudaraku, bekalilah diri kita dengan kepemahaman. Karena kekecewaan kita, protes kita, atau keluh kita, boleh jadi adalah bukti ketidakmampuan kita dalam memahami hikmah atas apa yang Allah ajarkan kepada kita. Atau bisa juga disebabkan oleh kurangnya kepemahaman kita dalam memaknai arti dakwah itu sendiri. Berhati-hatilah, Saudaraku. Ketika kita telah merasa berkorban, sesungguhnya kita belumlah berkorban. Karena tidak ada pengorbanan yang diiringi dengan penyesalan. Tidak ada pengorbanan yang disertai dengan kesombongan.
Dakwah ini berat, bagi mereka yang suka mengeluh. Dakwah ini menyakitkan, bagi mereka yang tidak pernah berkorban. Dakwah ini mengecewakan, bagi mereka yang selalu menuntut. Dakwah ini membosankan, bagi mereka yang jauh dari keteladanan. Dan pada akhirnya, dakwah ini hanyalah seonggok nurani yang terkapar, yang menunggu waktu hingga datang seorang juru dakwah yang tulus, kuat, dan teguh dalam mengemban amanah ini.
Ia mau menerima beban, lantaran sadar dan peduli bahwa harus ada yang memikul tanggung jawab ini. Ia siap menjalaninya, karena ia yakin tidak sendiri. Selalu ada ‘tangan-tangan’ tersembunyi yang senantiasa menuntun dan menolongnya. Selalu ada balasan yang besar dan derajat yang tinggi dari-Nya, itulah yang membuatnya tetap tersenyum meskipun ia terluka.
Saudaraku, simaklah apa yang pernah dituturkan Syaikhut Tarbiyah, Ust. Rachmat Abdullah,

“Allah memberi ganjaran yang sebesar-besarnya dan derajat yang setinggi-tingginya bagi mereka yang sabar dan lulus dalam ujian kehidupan di jalan dakwah. Jika ujian, cobaan yang diberikan Allah hanya yang mudah-mudah saja, tentu kita tidak akan memperoleh ganjaran yang hebat. Di situlah letak hikmahnya, yaitu bagi seorang da’i harus sungguh-sungguh dan sabar dalam meniti jalan dakwah ini. Perjuangan ini tidak bisa dijalani dengan ketidaksungguhan, azzam yang lemah, dan pengorbanan yang sedikit.”
Allahu a’lam…

Sumber: http://www.dakwatuna.com/…/436…/inilah-asal-kelemahan-kita/…
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook


Kamis, 19 Februari 2015

Si Mimpi



Hai mimpi,, Bagaimana kabar mu ??
Rasanya malu sekali aku berkata “hai” pada mu, dari jarangnya aku menjenguk mu hihi.. Lama sekali aku tidak menggelitik mu dengan bolpoin mu dengan bolpoin ku. Membulatkan atau mencoret apa yang sudah terkontaminasi dari dunia mu *Si mimpi* sampai dunia ku.
Kau tidak pernah berubah, ya :) tetap saja cantik bagi ku. Dengan segala yang terhampar dan buat aku semangat lagi menjalani hari. Tapi, ada hal yang sering buat aku malu untuk mengunjungi mu. Kau    tahu ? aku terlalu malu pada mu, sebab … sering aku hampir menyerah saja, mengusaikan semuanya dan hidup tanpa aturan yang telah kita sepakati. Kalau sudah begitu, pasti kau menghampiri ku, sambil berkata “ketika menuntut ilmu, sabar dan tenanglah .. pelan pelan saja, dan perhatikan bagaimana Allah menuntun mu kepada sesuatu :). Lalu kau diam sejenak dan berkata lagi “Allah tidak pernah menyuruhm mu memikirkan suatu jalan keluar sampau kau merasa penat. Dia hanya menyuruh mu, jadikan sabar dan shalat sebagai penolong”. Kalau sudah begitu, aku langsung berhenti dari keluh kesah dan menangis, setelah itu sudah.. ku dapati lagi semangat itu.
Terima kasih ya Si mimpi… kau memang tak pernah marah, mengerti sekali akan sifat ku*jadi canggung hehe..
Si mimpi …
Dari siapa kau belajar ? membuat siapa saja yang melihat mu, menjadi begitu bahagia. Pernah ku Tanya itu pada mu, dan jawaban mu selalu  buat ku terdiam ,. Kau bilang “aku adalah Si mimpi, dimana semua mimpi mu ada dan kau coret ia. Kau senang ketika mengurutkannya, kau beri harapan pada ku *Si mimpi*, kau berusaha mewujudkannya. Walau terhitung lama sampai kau malu pada ku dan jarang mengunjungi ku. Aku kerap kesepian, tapi ketika kau berkunjung seketika aku pun bahagia karena kau ku lihat bahagia :) and I’m yours”
Aku terdiam, mendengar jawaban mu ..,
Wahai Si mimpi … aku ingin kau percaya ya,.
Walau tetap, jika ku tulis aku akan menyentuh pelangi suatu saat nanti, kau harus tetap percaya pada ku. Mustahil memang …
“tidak !! itu tidak mustahil ! bahkan kau bisa memeluk pelangi itu, Rahmi” kau langsung menjawabnya
Aku tersenyum mendengarnya. Kau tahu maksudku, tanpa harus ku beritahu. And really I’m yours, Si mimpi :)

Rabu, 02 April 2014
suatu ketika, saat aku merasa seperti merangkak menyusuri Si mimpi .. dan hai, aku di masa depan :) I’ll be waiting for you .. and run !!”