Rabu, 02 Juli 2014

The Genk of Cung Curuk

Di daur ulang menjadi senyum ~

jika di ingat , diperhatikan , di usik kembali cerita dulu .. ada begitu banyak air mata , kekesalan , benci , bahagia yang didaur ulang menjadi senyum .. terlangsung bibir menjelma menjadi sabit indah di wajah bila ku kenang memori dulu .. gambar gambar wajah polos tidak diragukan pastilah punya dosa itu membuat aku terpingkal pingkal kadang dalam tawa , seringkali tawa itu hadir sendiri .. maklumlah , kenangan kalian kerap hadir dalam ruangan hangat tempat aku melepas penat .. syukur tiada terkira ,, saat aku masih bisa melihat dan mengikuti bagaimana aku , kita membuktikan coretan mimpi mimpi yang sering kita aung aungkan ., terkhusunya lagi ,, engkau kini, masih bernama SAHABAT 


Hujjatul Balighah Sari Ridwan Daud BanTa Noor Arafah Mumtazah





Senin, 12 Mei 2014

SI TEDI

UNTUK SI  TEDI “ My coklate diary “
Coba ku dengar, gerangan apa yang kau punya ..
Selain sampul dan lembar – lembar kertas .,
Coba ku dekap, oh mengapa tak ada detakan disana ?
Pantas kau selalu diam ..     
Tak bergeming, walau alunan bolpoin ku
Mungkin dapat menggelitikmu ,
Kau tetap diam, selalu diam ..
Aku ingin kita membuat kesepakatan ,.
Kita membuat sebuah jalinan ,
Namun kurasa itu mustahil, sebab tak ku dengar detak jantung mu berirama seperti ku ..
Tapi kau tetap utuh, seorang yang selalu ku sayang
Walau bicara ku hanya lewat syair kata
Ku lukis dengan tinta bolpoin ini
Kau tetap, tetap seorang yang selalu ku sayang ..
Dengan apapun yang kau punya ,.
Sampul mu,
Lembaran – lembaran mu ..

Oh my Magic Book J


That's ALL

“ Seperti rasanya, baru kemarin aku memarkir motor dikampus itu “
   Coletah ku dalam hati tak kunjung sunyi, sebab tak akur dengan takdir. Ramai lalu lalang mereka tak mengusik aku yang mengego sendiri.. ku perhatikan mereka, namun tak ada binar kagum yang menyala-nyala, sampai akhir aku sudah bahkan tak ada pilihan hingga aku pasrah menapaki laluan disini .. ya, Fakultas pertanian ..,
   Ini serentetan satu dari banyak Quote yang ku rangkaian dari ketak-menerima ku atas takdir ini, hingga akhirnya aku menemukan yang Tuhan maksud pada tempat ini “jalannya para malaikat-malaikat” itu kata orang-orang awam disana, dan yang sesungguhnya ku temukan ialah “jalan dakwah” ..
    Sampai aku melupakan ego-ego dahulu, bukan karna penerimaan, tapi karena keasyikan berupa kesibukkan lain. Disini aku menemukan sesuatu, mereka menyapa dengan cara yang berbeda..
    Jalannya sukar, tak ramai, dianggap kuno, gak banget lah .. ya, namun saat Tuhan membuat ku melihat ada sesuatu yang luar biasa pada tempat ini, mengapa aku harus menjadi biasa ?
Jalan ini, bukan sekedar jalan yang memiliki trotoar, banyak persimpangan, terdapat lampu merah .. kau tahu hutan belantara ? jalan nya sulit dilihat, bahkan ditapaki. Tapi saat kau masuk, kelimpahannya meruah, bisa kau kutip sumber daya didalamnya, nah begitulah lebih kurangnya ..
   Disini,mereka membuatku merasa terus dipaksa. Sebuah pemaksaan yang tak banyak manusia-manusia ingin memaksa didalam hal yang kaya gini .. selalu datang paksaan terus menjadi baik, ruhiyah harus ditingkatkan, jangan tabarruj, peduli pada lingkungan dan memaksaku untuk menjadi pribadi yang tak bermasalah,. Sebuah pemaksaan yang tak biasa bukan ?
Rasanya baru kemarin, aku memakir motor untuk pertama kali di tempat itu. Dengan waktu-waktu yang terus bergulir tanpa mungkin dapat menunggu.. saat seperti itu akan selalu aku meng-rindu J
Terima kasih Tuhan, sungguh rencana Mu, How Wonderful J
LDK AL-IHSAN PERTANIAN


Senin, 24 Maret 2014

Coba Hitung Seberapa Jauh Tabukmu ?


Oleh : Ustad Cahyadi Takariawan

Apakah yang terjadi pada seorang Ka’ab bin Malik ? Ya, ia tidak berangkat ke Tabuk. Masyaallah, harusnya ia berangkat. Sebagaimana perang-perang sebelumnya, bukankah ia tidak pernah absen ? Mengapa ia tidak berangkat menuju Tabuk, padahal Nabi dan para sahabat telah berangkat ?

Pasti ia punya kondisi dan situasi yang membuatnya tidak berangkat. Ada sesuatu di balik ketidakberangkatannya.

Fasilitas Itu….

“Aku sama sekali tidak pernah absen mengikuti semua peperangan bersama Rasululah saw, kecuali dalam perang Tabuk. Ketidakikutsertaanku dalam perang Tabuk itu karena diriku dilalaikan oleh perhiasan dunia. Ketika itu keadaan ekonomiku jauh lebih baik daripada hari-hari sebelumnya. Demi Allah, aku tidak pernah memiliki barang dagangan lebih dari dua muatan onta, akan tetapi pada waktu peperangan itu aku memilikinya”.

Masyaallah. Demikian lugas pengakuan Ka’ab, “Ketidakikutsertaanku dalam perang Tabuk itu karena diriku dilalaikan oleh perhiasan dunia”.

Ternyata bukan hanya “orang awam” yang bisa dilalaikan oleh perhiasan dunia. Seorang mujahid, sahabat Nabi, terlahir menjadi generasi terbaik sepanjang sejarah kemanusiaan, tetap bisa terlalaikan oleh perhiasan dunia. Kurang apa Ka’ab. Tidak pernah absen dalam seluruh peperangan, benar-benar mujahid setia.

“Demi Allah, aku tidak pernah memiliki barang dagangan lebih dari dua muatan onta, akan tetapi pada waktu peperangan itu, aku memilikinya”.

Artinya, bukan soal fasilitas yang menyebabkan Ka’ab tidak berangkat ke Tabuk.

Di zaman kita sekarang, Tabuk itu tidaklah jauh. Sesungguhnya Tabuk kita lebih simpel dibandingkan di zaman Ka’ab. Namun “ketidakberangkatan” tetap saja terjadi. Coba ukur, seberapa jauh Tabukmu ?

Ada yang merasakan kesulitan ekonomi, yang menyebabkannya memiliki banyak keterbatasan dalam mengikuti kegiatan dakwah. Ia mengatakan, “Andai aku punya motor, tentu akan lebih banyak kegiatan dakwah yang bisa aku lakukan”. Ketika punya motor ternyata ia masih merasa banyak keterbatasan. “Andai aku punya mobil, tentu aktivitasku menjadi lebih leluasa”. Saat memiliki mobil, tetap saja banyak alasan. “Andai mobilku bagus, pasti tidak ada lagi kendala berkegiatan”.

Saat mobilnya sudah bagus, ternyata tetap saja ia tidak tergerak untuk aktif berdakwah. Apa yang terjadi padanya ? Padahal sekian banyak mujahid dakwah berjalan kaki melakukan kegiatan, dan berlelah-lelah di tengah keterbatasan sarana serta fasilitas. Dakwah tetap berjalan tanpa tergantung kepada ketersediaan dan kelengkapan fasilitas.

Mengapa ada yang tetap tidak berangkat ?

Panas, Jauh, Lelah….

“Peperangan ini Rasulullah saw lakukan dalam kondisi panas terik matahari gurun yang sangat menyengat, menempuh perjalanan nan teramat jauh, serta menghadapi lawan yang benar-benar besar dan tangguh… Rasulullah saw mempersiapkan pasukan yang akan berangkat. Aku pun mempersiapkan diri untuk ikut serta, tiba-tiba timbul pikiran ingin membatalkannya, lalu aku berkata dalam hati : Aku bisa melakukannya kalau aku mau!”

Bukan panas musim kemarau seperti yang sering kita alami di Indonesia, namun panas terik matahari gurun yang sangat menyengat. Sangat panas, harus menempuh perjalanan yang jauh, dan “hanya” untuk berperang. Bukan untuk rekreasi, bukan untuk wisata kuliner, bukan untuk menginap di hotel berbintang, bukan untuk tamasya dengan keluarga. Sangat panas, sangat jauh, naik kuda atau unta, tentu akan sangat lelah, dan di sana telah menunggu musuh yang sangat tangguh.

Tabuk di zaman Ka’ab sungguh jauh. Tidak ada pesawat terbang, tidak ada mobil ber-AC, tidak ada sarana yang memadai untuk menempuh jarak yang sedemikian panjang dan cuaca yang sangat panas terik.

Di zaman kita sekarang, Tabuk itu tidaklah jauh, tidak panas terik. Ada pesawat terbang, ada kereta api eksekutif, ada bus eksekutif, ada taksi, ada travel, ada mobil ber-AC, ada motor, ada sepeda. Tabuk kita bahkan tidak panas, namun “ketidakberangkatan” tetap saja terjadi. Sebenarnya, seberapa jauhkah Tabukmu ?

Awalnya kita merasa “Aku bisa melakukannya kalau aku mau !” Ah, tapi apa yang aku dapat kalau berangkat ?

Mengaji, di tempat para murabbi bahkan kita disuguhi. Rapat, di tempat pertemuan tersedia banyak jajanan. Berbagai agenda dakwah, seperti tatsqif, mabit, daurah, bahkan mukhayam, semua full fasilitas. Apa yang menghalangi untuk datang ke berbagai agenda dakwah tersebut ? Apa yang menjadi alasan ketidakberangkatan ?

Apa sebenarnya perang kita ? Apa yang ada di Tabuk kita ?

Dikuasai Kemalasan

“Akhirnya aku terbawa oleh pikiranku yang ragu-ragu, hingga para pasukan kaum muslimin mulai bergerak meninggalkan Madinah. Saat aku lihat pasukan kaum muslimin mulai meninggalkan Madinah, timbul pikiranku untuk mengejar mereka, toh mereka belum jauh. Namun, aku tidak melakukannya, kemalasan menghampiri dan bahkan menguasai diriku…”

Di zaman kita, ada yang melihat orang lain yang sangat aktif dan dinamis dengan berbagai agenda dakwah, sempat terpikir “Aku masih bisa mengejar mereka”. Ya, aku akan menyusul mereka. Tapi mengapa tidak engkau lakukan ? Mengapa tidak engkau susul mereka ? Mengapa engkau tetap tidak berangkat ? Apa alasan ketidakberangkatanmu ?

“Kemalasan menghampiri dan bahkan menguasai diriku……”

Padahal kita tidak bertemu panas terik gurun pasir. Kita tidak bertemu jarak yang demikian jauh untuk ditempuh dengan kaki. Yang kita temui adalah sarana dan fasilitas yang lengkap. Acara dari hotel ke hotel. Kegiatan dari rumah ke rumah. Rapat dari ruang ke ruang. Koordinasi dari gedung ke gedung. Semua nyaman, semua menyenangkan, semua sejuk, semua penuh dengan suguhan.

Mengapa tetap terjadi ketidakberangkatan ? Apa alasan kita ?

"ingatkan jika saya khilaf"

Rabu, 19 Maret 2014

Cahaya di Langit itu

Ketika cahayamu menerangi duniaku
Sebtuhan tangan itu memelukku penuh cinta
Saat dalam keangkuhan dan meremehkan takdirku
Setia ku dalam cinta hampir kehilangan arah

Tersadarku dan berfikir ridhonya surge duniaku
Seperti ku terbang dilangit tinggi
Ku temui satu titik cahaya-Mu
Ku lihat ada malaikat kecil-Mu

Membisikkan ku tuk tetap disini, ku tersimpuh
Perjalanan ini
Kuatkan iman ku
Tuk arungi hidup
Nilai cinta dengan kasih Mu

Seperti ku terbang dilangit tinggi
Temui satu titik cahaya-mu
Ku lihat ada malaikat kecil-Mu
Membisikkan ku tuk tetap disini

Seperti ku terbang dilangit tinggi
Temui satu titik cahaya-mu
Ku lihat ada malaikat kecil-Mu
Membisikkan ku tuk tetap disini, ku tersimpuh
Nilai cinta dengan kasih Mu

















Rabu, 05 Maret 2014

Tuhan, ingin aku menjadi

Banyak pahit manis, juga gak ketinggalan kaya gula dan garam .
manusia itu memang perlu di ingatkan. bukan tidak tau,. SUDAH TAHU :) , hanya perlu diingatkan ..,
  coba di buka lembar demi lembar Quotes yang dulu dulunya sering dicetus, bisa jadi pengkuatan untuk mengisi energi baru . masalalu adalah guru terbaik, meski juga sering menjadi kesakitan terbaik . 
   Aku selalu berdoa "Tuhan, jadikan aku seperti Kau ingin aku jadi" ..
Nah inilah dia,,. ini inginnya Tuhan, aku menjadi .. maka tersenyumlah pada hari Tuhan ingin aku menjadi *katakan itu pada dirimu sendiri ..
Hidup itu, wah banyak sekali tentang makna dari hidup itu sendiri . dan aku memaknai salah satu nya ialah pelengkap . ketika aku , Tuhan inginkan hidup di pagi, di sore, dan dimalam . ya , aku menjadi pelengkap, dimana pun itu ku temui kekurangan ..
   Ada dimana aku bertanya , mengapa mereka tertawa sedang aku berdiam ? . mengapa mereka menyanyi sedang aku parau ?, dan mengapa mereka menangis sedang aku tersenyum lebar ? ..
Dan begitulah maknanya , hidup ini pelengkap ., ketika ada yang tertawa, harusnya ada yang terdiam, ketika ada yang menyanyi harusnya ada yang parau, dan ketika ada yang menangis harusnya ada yang tersenyum lebar .,
     Melengkapi karena kita tak sama, ..
Sungguh, Tuhan Maha Sempurna Dengan Segala Yang Betebaran di Bumi ini dan di Langit sana ..,
Jangan lupakan apa yang pernah terkata kata oleh mu, bisa jadi kata kata mu kini akan menjadi pengkuatan mu dikemudian hari.   
    Seperti aku menulis tanpa arah, bukan tanpa tujuan .. jangan dimaknai makna nya J , tak usaah J

Yang ingin aku katakan ialah , aku mencintai huruf tapi tak membenci angka, aku mencintai tulip meski sempat mengagumi mawar berduri, mencintai awan yang selalu begitu .. begitu rapi, coraknya menarik beserta jajarannya haha, ya,  angin, bintang , mereka , tak lupa , aku begitu mencintai laut . Ini bukti Tuhan ingin aku menjadi J

Jumat, 28 Februari 2014

Biarlah Menjadi Perahu Kertas

Semuanya tak semudah membalikkan telapak tangan. Sesuatu yang telah kamu cita-citakan belum tentu dapat tercapai secara pasti. Sesuatu yang kamu rencanakan, belum tentu berjalan dengan baik. Terkadang, kita juga harus menelan pil pahit. Cita-cita itu bagaikan bintang di langit. Sangat indah dilihat, namun susah dan bahkan mustahil untuk digapai. Atau seperti perahu kertas yang mengalir dan terus mengalir di sungai. Entah akan berhenti dimana, entah akan sampai dimana. Namun suatu saat, perahu kertas itu akan berhenti juga. Bisa jadi sampai kemuara sungai, atau pun tenggelam tertabrak sampah. Mimpi, Mimpi, Mimpi…..

Biarlah menjadi perahu kertas, dan mengalir bersama air